Sunday, June 7, 2009

untitled




Ini tentang aku dan mereka. Tentang kami. Tentang persahabatan. Bagaimana sebuah persahabatan terasa sangaat indah, dan bagaimana persahabatan itu menjadi sangat menyakitkan --- ketika hancur.

Mereka selalu memuji persahabatan kami, bagaimana persahabatan ini tampak sangat sempurna .

Tapi waktu membawa kami ke masa ini, dimana semua berbeda. Dimana kami memilih jalan yang berbeda-beda, dan kami terlalu menikmatinya, dan tak mau menyingkirkan ego masing-masing untuk berjalan di jalan yang sama lagi; seperti dulu.

4

3 – 1

2 – 1 – 1

Dan

1 – 1 – 1 – 1

Malaikat pertama. Meninggalkan kami bertiga dengan tangis; segan , terpaksa, karena jarak. Tapi toh dia kini sudah menemukan malaikat-malaikat lain pengganti kami bertiga .

Malaikat kedua. Meninggalkan kami berdua secara perlahan dengan senyuman; yang sangat menyakitkan bagi kami. Karena dia berada di nirwana dengan lautan malaikat-malaikat sempurna, yang menyilaukan mata malaikat kedua, dan dengan mudah menyingkirkan posisi kami berdua. Dan malaikat kedua menyebut mereka ‘kawan’.

Malaikat ketiga. Perlahan melepaskan diri dari aku. Dia yang terakhir bagiku, yang paling berharga, yang takkan pernah kurelakan untuk pergi. Tapi dia tak peduli dengan teriakanku yang memintanya tetap disini. Dia jenuh. Dia jenuh bersamaku, jenuh menjadi milikku, jenuh mendengar cerita tentangku. Dan akhirnya dia pun terbang meninggalkanku, dengan sejuta luka yang menggores tubuhku.

Sakit.

Ketiga malaikat itu akan dengan mudah mendapat malaikat-malaikat baru sebagai kawan yang akan selalu bersedia ada di samping mereka dan tertawa bersama mereka, tidak sepertiku – karena aku Malaikat keempat . Malaikat terakhir . Malaikat pencabut nyawa. Aku . Tersingkir dari kebisingan tawa dunia. Sendiri . Tak ada yang mengharapkan kehadiran malaikat pencabut nyawa, kan?

3 comments: