Saturday, August 7, 2010

kisah sang figuran

entah apa yang ada dipikirannya.
merasa sempurna, mungkin. merasa segalanya, bisa jadi iya. merasa terhebat, sulit untuk bilang tidak.
aku tidak akan membelalakkan mata karena terkejut maupun kaget kalau suatu saat nanti semua akan berseru padanya. mengungkapkan apa yang ada. apa yang telah tertanam sejak awal pertama. suatu saat nanti, saat dimana bom waktu meledak.
aku tidak akan menyalahkan mengapa semua terpendam terlalu lama. mengapa mereka bertahan dengan senyum palsu mereka dihadapannya, hingga yang nampak adalah bahwa semua baik-baik saja. dan semua berjalan sesuai apa kata sang pemeran utama.
kalaupun sang pemeran utama memiliki lima jari di tangan kanannya, dia menggunakan jari telunjuknya untuk memerintah, dengan akal dangkalnya. menggunakan jari tengah untuk mengumpat, dengan mulut pisaunya. menggunakan jari manis untuk memamerkan apa yang ia banggakan, diantara ketidakpunyaannya. menggunakan jari kelingking untuk merendahkan siapapun, dengan kepala besarnya. dan yang paling ia suka, menggunakan ibu jari untuk mengagungkan dirinya sendiri, dengan hati kerasnya.
aku, seorang figuran yang menjadi pemeran utama di kisahku sendiri, memilih berjalan tanpa kacamata, mengijinkan mataku mengaburkan apapun yang kulihat. menyumpal telingaku dengan alunan musik bervolume tinggi, mengijinkannya tidak mendengar apapun yang tak kuinginkan. dan mengunyah permen karet seperti sapi idiot, mengijinkan mulutku terlalu sibuk untuk angkat bicara.
masa bodoh jari apa yang ia gunakan.
masa bodoh dengan umpatan yang ia serukan.
hanya pikiranku saja yang kuinginkan berlarian lepas meneriakkan kata "terserah"

Wednesday, July 21, 2010

ingatkah kamu?

seingatku, kita memulainya bersama. baik aku dan kau hanya bisa diam.
seingatku, kita mencobanya bersama; meski berdiri itu susah. dan kita pun mengumpat.
seingatku, kita menjalaninya bersama. diantara umpatan-umpatan itu kita masih bisa tertawa sembari berjalan.
seingatku aku tak pernah memintamu berlari, karna jika kau jatuh aku tak tau harus berbuat apa. seingatku.
tapi kau berusaha merangkak ketika aku terdiam, berjalan ketika aku berdiri, dan berlari dengan kaki mungilmu ketika aku kesulitan berjalan.
kau tunjukkan pada mereka betapa berharganya kau; dan aku bangga akanmu.
mereka memujimu setinggi yang mereka mampu, dan memberiku tatapan hina bermakna "bisa apa kau, idiot?"
tapi kau tau? menjadi begini pun sudah membuatku senang, karena aku dibutuhkan. dibutuhkan olehmu. ya, kan? karena kalau tak ada orang sepertiku, tak akan ada yang menganggapmu tinggi.


sudahlah, tak perlu tak enak hati.
ini hanya sebuah tulisan.